Sejarah

Pada zaman kolonial Belanda terdapat dua desa di Kecamatan Camplong yaitu Desa Banjar dan Desa Tabulu. Kedua desa tersebut bersebelahan, Desa Banjar terdapat di area barat dan Desa Tabulu berada di area timur. Kedua desa tersebut dipimpin oleh tetua masyarakat masing – masing, akan tetapi kemudian Desa Tabulu bergabung dengan desa Banjar dikarenakan masyarakat sekitar pada saat itu menganggap bahwa pemimpin Desa Tabulu kurang dapat mengayomi masyarakatnya. Masyarakat Desa Tabulu pun berpikiran juga bahwa pada masa penjajahan saat itu sangat perlu adanya kekuatan dan persatuan rakyat untuk mengusir dan mengakhiri penjajah. Jika dilihat jumlah penduduk saat itu Desa Tabulu lebih sedikit dari Desa Banjar, sehingga pemimpin Desa Tabulu melimpahkan kekuasaanya kepada pemimpin Desa Banjar.
Pemimpin Desa Banjar sendiri merupakan tetua tokoh yang ikut berperang dalam perlawanan terhadap Belanda dan Jepang. Ia dijuluki sebagai salah satu pahlawan di desa yang berani menolak serta memberontak para penjajah yang berada di tanah kelahirannya. Ia bernama Muadhin yang memiliki julukan Singomertho. Karena bersatunya antara desa Banjar dan desa Tabulu maka akhirnya tetua desa setempat menamakan desa tersebut desa Banjar Tabulu yaitu gabungan antar dua desa tersebut. Walaupun demikian semua warga yang tinggal dapat hidup serasi dan saling menghormati tanpa pernah membedakan dulu mereka berasal dari tempat yang berbeda.
Desa Banjar Tabulu memiliki tujuh dusun yang terdiri dari Dusun Banjar Tengah, Dusun Geng Pao, Dusun Tabulu, Dusun Rembeng, Dusun Rosong, Dusun Lek Nande, dan Dusun Barat Sungai. Saat ini Desa Banjar Tabulu saat dipimpin oleh H. Radin. Ia masih memiliki hubungan keluarga dari kepala desa pertama (Muadhin). Keturuanan dari Singomertho menjadi keturunan yang disegani oleh masyarakat Desa Banjar Tabulu, itulah alasan mengapa keturunan dari Singomertho menjadi kepala desa di Banjar Tabulu hingga saat ini.


Sumber data : Bapak H. Radin (Kepala Desa Banjar Tabulu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar